Dalam pidatonya di World Economic Forum (WEF) Davos, Swiss, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan kabar yang cukup menggembirakan: tingkat kemiskinan ekstrem di Indonesia terus menurun dan mencapai level terendah. Pernyataan ini menjadi sinyal optimisme, sekaligus pengingat bahwa perjuangan melawan kemiskinan masih panjang dan kompleks.
Kita mungkin bertanya, apa arti penurunan kemiskinan ekstrem bagi kehidupan sehari-hari masyarakat? Apakah dampaknya sudah benar-benar terasa? Untuk menjawabnya, kita perlu memahami bagaimana kemiskinan dan kelas sosial diukur, serta indikator apa saja yang membedakan kelas menengah, menengah bawah, dan kelas bawah.
Konteks Pernyataan Presiden Prabowo di WEF Davos
WEF Davos dikenal sebagai panggung global tempat para pemimpin dunia menyampaikan arah kebijakan strategis. Ketika Presiden Prabowo mengangkat isu kemiskinan ekstrem Indonesia, pesan yang ingin disampaikan bukan sekadar angka statistik, melainkan komitmen negara dalam memperbaiki kesejahteraan rakyat.
Makna Strategis Pidato di Forum Global
- Menunjukkan keseriusan Indonesia dalam pembangunan inklusif
- Membangun kepercayaan investor internasional
- Menegaskan fokus pemerintah pada ekonomi kerakyatan
Ibarat kapal besar, ekonomi Indonesia sedang diarahkan agar semua penumpang—bukan hanya yang di dek atas—bisa sampai ke tujuan dengan selamat.
Apa Itu Kemiskinan Ekstrem?
Kemiskinan ekstrem bukan sekadar soal pendapatan rendah. Ini adalah kondisi ketika seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar, seperti pangan bergizi, tempat tinggal layak, pendidikan, dan layanan kesehatan.
Perbedaan Kemiskinan dan Kemiskinan Ekstrem
- Kemiskinan: pendapatan rendah, tapi masih bisa bertahan
- Kemiskinan ekstrem: hidup di bawah standar minimum kelayakan
Penurunan kemiskinan ekstrem berarti semakin banyak masyarakat yang setidaknya sudah melewati garis paling bawah dari ketidakberdayaan ekonomi.
Indikator Kelas Sosial dalam Masyarakat
Mengutip pendekatan yang digunakan oleh GoBankingRates, terdapat lima indikator utama untuk mengelompokkan masyarakat ke dalam kelas ekonomi tertentu. Mari kita bahas satu per satu secara lebih mendalam.
1. Tempat Tinggal sebagai Cerminan Kondisi Ekonomi
Biaya Hunian dan Tekanan Finansial
Tempat tinggal adalah pengeluaran terbesar bagi sebagian besar keluarga. Jika seseorang:
- Kesulitan membayar sewa atau cicilan
- Tinggal di lingkungan yang kurang aman
- Tidak memiliki kepastian hunian
maka besar kemungkinan ia berada di kelas menengah bawah atau kelas bawah.
Hunian Layak sebagai Simbol Stabilitas
Rumah bukan hanya bangunan, tetapi fondasi kehidupan. Ketika hunian tidak layak, efek domino akan terasa pada kesehatan, pendidikan anak, hingga produktivitas kerja.
2. Pekerjaan dan Status Sosial Ekonomi
Pekerjaan Kerah Biru dan Kerah Putih
Jenis pekerjaan sering kali menjadi penanda kelas sosial:
- Kerah biru: pekerja manufaktur, sopir, pelayan, petugas kebersihan
- Kerah putih: manajer, spesialis, profesional
Menurut Nathan Brunner, CEO Salarship, posisi manajerial dan spesialis umumnya masuk kategori kelas menengah.
Area Abu-Abu Profesi
Menariknya, profesi seperti:
- Guru
- Perawat
- Akuntan
- Pekerja IT
bisa berada di antara kelas pekerja dan kelas menengah, tergantung:
- Senioritas
- Sertifikasi
- Lokasi kerja
Jadi, gelar saja tidak selalu menjamin kesejahteraan.
3. Tabungan dan Investasi: Penyangga Masa Depan
Mengapa Tabungan Sangat Penting
Tabungan dan investasi adalah bantalan saat krisis datang. Tanpa keduanya, seseorang akan sangat rentan terhadap:
- PHK
- Sakit mendadak
- Kenaikan harga kebutuhan pokok
Realita Kelas Bawah
Bagi kelas bawah, menabung sering terasa seperti mimpi. Jika:
- Tidak punya tabungan darurat
- Tidak ada rencana pensiun
maka kondisi tersebut menjadi indikator kuat keterbatasan ekonomi.
4. Gaya Hidup dan Kebebasan Finansial
Kesenangan Kecil yang Bermakna Besar
Liburan tahunan, makan di luar, atau membeli barang baru tanpa cemas adalah tanda adanya ruang bernapas dalam anggaran.
Ketika Semua Terasa Berat
Jika setiap pengeluaran harus dihitung ketat, bahkan untuk kebutuhan hiburan sederhana, itu bisa menandakan:
- Penghasilan pas-pasan
- Tidak ada fleksibilitas finansial
Gaya hidup bukan soal pamer, tetapi tentang kebebasan memilih.
5. Pendidikan sebagai Tangga Mobilitas Sosial






