Lalai Membayar Zakat Bisa Bikin Celaka

Berseri-seri wajah Ayah setiba di rumah pada hari ke-17 bulan Ramadan 1425 Hijriyyah yang lalu. Ibu menyambutnya dengan balasan salam yang merdu dan senyum semanis madu. Aku pun ikut membalas salam Ayah. Senyum ibu tambah manis ketika Ayah mengeluarkan dua amplop warna cokelat yang tebal.

“Ini amplop hadiah Lebaran, satu kali gaji take-home pay,” kata Ayah sambil menyerahkan amplop pertama kepada Ibu. Hadiah Lebaran itu adalah satu kali gaji pokok ditambah tunjangan jabatan, tunjangan kendaraan, tunjangan uang kesehatan, dan tunjangan anak-istri.

“Alhamdulillah,” ucap Ibu sambil mendekap amplop itu ke dadanya.

“Yang satu ini bonus tahunan, satu kali gaji pokok,” kata Ayah sambil menyerahkan amplop kedua yang lebih tipis daripada yang pertama.

Bacaan Lainnya

Mata Ibu berkaca-kaca saat mengucapkan hamdalah yang kedua kalinya.

“Jadi dong, Yah, kita beli kursi tamu baru, mengganti pintu gerbang pagar depan rumah, dan membayar uang muka kreditan motor untuk Kemal,” kata Ibu bersemangat sambil melirikku.
Aku melonjak kegirangan setelah mendengar kata-kata kreditan motor untukku.

“Atur sajalah!” sahut Ayah sambil melepaskan sepatu dan kaus kaki.

Ibu segera menyambut sepatu dan kaus kaki Ayah dan meletakkannya di rak sepatu.

Adikku, Az-Zahra, merengek minta dibelikan sepeda baru bermesin tempel.

Ayah-Ibu setuju. Kata Ayah, sepeda baru bermesin tempel itu sebagai hadiah bagi Az-Zahra karena telah berhasil puasa sebulan penuh untuk pertama kalinya di usianya yang ketujuh. Tetapi, kata Ayah, Az-Zahra hanya boleh mengendarai sepeda baru itu di kompleks perumahan kami, tidak boleh dibawa bermain-main di jalan raya, di luar kompleks.

Az-Zahra mengiyakan dengan tulus.

Alhamdulillah, semua rencana tersebut terlaksana pada hari ke-27 bulan Ramadan. Dalam perjalanan pulang dari berbelanja, Ibu usul, pada hari kedua ‘Idul Fithri akan bersilaturahim ke tetangga-tetangga dulu di Perumahan Poris Indah, Tangerang, sekalian salat Ashar di Masjid Al-Ikhlas di belakang bekas rumah kami yang sudah dijual dulu.

Ayah setuju. Tapi, kata Ayah, pagi-pagi pada hari kedua ‘Idul Fithri itu ke rumah Pak Haji Ir. Ikrar Muharam, the big boss di kantor.

Nah, pada hari kedua ‘Idul Fithri 1425 Hijriyyah itu, aku dan adikku, Az-Zahra, tidak ikut Ayah dan Ibu ke Tangerang. Aku punya acara sendiri bersama teman-temanku yang memiliki motor, sedang Az-Zahra sedang bermanja-manja di rumah kakek-nenek kami di Cimanggis. Maklumlah, dia satu-satunya cucu perempuan Kakek-Nenek dari lima cucu mereka.

Sekitar pukul 17.05, telepon genggamku bernyanyi nyaring. Saat itu, aku sedang menikmati kue-kue di rumah Siti Halimah Al-Sa’diah, teman sekelasku waktu di SMA. Aku terperenyak sambil mengucapkan innalillahi wainna ilaihi rajiun setelah mendengar cerita Ibu dari rumah sakit. Mobil ringsek berat karena ditabrak sebuah jip yang ngebut, kata Ibu. Tangan kanan Ayah luka parah, dan harus dijahit. Ibu hanya cedera ringan.

Setelah pamit kepada keluarga Siti Halimah, aku ngebut ke rumah sakit. Kupeluk Ayah, yang terbaring di ranjang serba putih.

Berulang-ulang Ayah mengucap istighfar sambil menyeka air mata.

“Kita telah lalai membayar zakat yang menjadi hak anak yatim, janda miskin, dan kaum dhuafa lainnya,” bisik Ayah. “Kita telah bersuka-cita dengan rizqi yang sebenarnya bukan hak kita.”

“Astaghfirullah…. Astaghfirullah…. Astaghfirullah…,” ucap Ibu berkali-kali penuh sesal.
Tetapi, semuanya telah terjadi. Yang penting mengambil hikmahnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *