Pernahkah kita merasa berhadapan dengan seseorang yang selalu terlihat sebagai “korban” dalam setiap situasi? Atau bahkan tanpa sadar, kita sendiri pernah melakukannya? Fenomena ini dikenal sebagai playing victim, sebuah perilaku yang semakin sering muncul di berbagai aspek kehidupan—baik di lingkungan kerja, pertemanan, hingga hubungan keluarga.
Dalam artikel ini, kita akan mengupas secara mendalam apa itu playing victim, bagaimana ciri-cirinya, apa penyebabnya, serta strategi efektif untuk menghadapinya. Mari kita bahas dengan santai tapi tetap tajam.
Apa Itu Playing Victim?
Definisi Playing Victim
Playing victim adalah perilaku seseorang yang menempatkan dirinya sebagai korban, bahkan ketika situasi sebenarnya tidak sepenuhnya demikian. Tujuannya bisa beragam—mulai dari mencari simpati, menghindari tanggung jawab, hingga memanipulasi keadaan.
Analogi Sederhana
Bayangkan seseorang seperti aktor dalam sebuah drama. Mereka memainkan peran korban agar mendapat perhatian penonton. Padahal, di balik layar, cerita sebenarnya bisa sangat berbeda.
Mengapa Playing Victim Bisa Terjadi?
Faktor Psikologis di Baliknya
Perilaku ini bukan muncul begitu saja. Ada beberapa faktor psikologis yang mendorongnya:
1. Rendahnya Rasa Percaya Diri
Seseorang yang kurang percaya diri cenderung mencari validasi dari orang lain.
2. Trauma Masa Lalu
Pengalaman buruk bisa membuat seseorang terbiasa melihat diri sebagai korban.
3. Kebutuhan Akan Perhatian
Sebagian orang merasa dihargai hanya ketika mereka dianggap “terluka”.
Faktor Lingkungan
Selain faktor internal, lingkungan juga berperan besar:
- Pola asuh yang terlalu memanjakan
- Lingkungan yang permisif terhadap manipulasi
- Budaya yang memberi simpati berlebihan tanpa verifikasi
Ciri-Ciri Playing Victim yang Perlu Kita Kenali




