Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah sejumlah analis memprediksi dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi menembus level psikologis Rp18.000 dalam waktu dekat. Prediksi tersebut muncul di tengah tekanan yang terus menghantam mata uang Garuda, baik dari faktor global maupun domestik. Bahkan, beberapa pengamat memperkirakan jika level Rp18.000 berhasil ditembus, pelemahan rupiah bisa bergerak lebih cepat menuju Rp18.200 hingga Rp19.000 per dolar AS.
Kondisi ini menjadi perhatian serius karena kurs rupiah merupakan salah satu indikator penting kesehatan ekonomi nasional. Ketika rupiah melemah terlalu dalam, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pemerintah dan pelaku usaha, tetapi juga langsung menyentuh kehidupan masyarakat sehari-hari.
Menurut analis komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi, tren pelemahan rupiah masih berpotensi berlanjut hingga pekan depan. Ia menilai level Rp18.000 sudah berada “di depan mata” dan berpeluang berlanjut ke Rp18.200 apabila tekanan terhadap rupiah tidak mereda.
Faktor Global Jadi Pemicu Utama
Salah satu penyebab terbesar melemahnya rupiah adalah menguatnya dolar AS di pasar global. Ketidakpastian ekonomi dunia, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, hingga kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasar keuangan membuat dolar kembali menjadi aset safe haven yang diburu investor.
Konflik yang memanas antara Amerika Serikat dan Iran disebut menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga minyak dunia. Ketika harga energi melonjak, negara-negara pengimpor minyak seperti Indonesia membutuhkan lebih banyak dolar untuk memenuhi kebutuhan impor energi. Kondisi tersebut meningkatkan permintaan dolar AS dan menekan nilai tukar rupiah.





