Pernah nggak sih kalian bingung saat mau beli token listrik: “mending beli Rp20.000, Rp50.000, atau langsung aja Rp100.000?” Tenang, kamu nggak sendirian! Banyak orang Indonesia yang punya pertanyaan serupa.
Nah, di artikel ini kita akan kupas tuntas untung-ruginya beli token listrik di nominal berbeda. Kita akan bahas dari sisi biaya admin, jumlah kWh yang didapat, sampai strategi biar lebih hemat. Yuk, kita mulai!
Apa Itu Token Listrik Prabayar?
Sebelum lanjut, kita bahas sedikit dulu. Token listrik prabayar itu semacam pulsa buat listrik. Jadi, kamu beli dulu tokennya, masukin kodenya ke meteran, baru deh listriknya nyala sesuai kWh yang kamu dapat.
Kalau habis? Ya tinggal beli lagi. Simpel kan?
Bedanya Token Rp20.000, Rp50.000, dan Rp100.000
Sebenarnya, dari sisi fungsi semuanya sama: beli token = dapat listrik. Tapi yang membedakan adalah:
Jumlah kWh yang diterima
Biaya admin
Efisiensi harga per kWh
1. Token Rp20.000: Cocok Buat Emergency
Kalau kamu lagi tanggal tua atau cuma butuh listrik sebentar, token ini bisa jadi solusi cepat. Tapi, biaya admin tetap dikenakan, lho!
Kelebihan:
Murah dan cepat
Cocok buat kondisi darurat
Kekurangan:
Biaya admin cukup tinggi dibanding jumlah token
KWh yang didapat lebih sedikit
2. Token Rp50.000: Pilihan Menengah yang Lumayan Hemat
Token ini sering jadi pilihan karena masih terjangkau tapi jumlah kWh-nya lebih banyak dibanding Rp20.000. Biaya adminnya pun tetap, jadi lebih hemat per kWh.
3. Token Rp100.000: Lebih Hemat dalam Jangka Panjang
Mau lebih hemat? Pilihan ini paling masuk akal. Karena biaya adminnya tetap sama, jadi kamu dapat lebih banyak kWh per rupiah.
Ibaratnya, beli grosir lebih murah daripada eceran.
Perbandingan Jumlah kWh Berdasarkan Nominal
| Nominal Token | Perkiraan kWh | Biaya Admin | Efisiensi |
|---|---|---|---|
| Rp20.000 | ±13 kWh | Rp1.500 | Kurang Efisien |
| Rp50.000 | ±33 kWh | Rp1.500 | Lebih Baik |
| Rp100.000 | ±67 kWh | Rp1.500 | Paling Efisien |
Catatan: Nilai kWh bisa berubah tergantung golongan tarif listrik (R1, R2, dll).
Kenapa Biaya Admin Bisa Pengaruhi Jumlah kWh?
Karena biaya admin itu tetap, jadi kalau kamu beli nominal kecil, persentase biaya admin jadi lebih besar.
Contoh:
Rp20.000 – Rp1.500 = 7,5% hilang buat admin
Rp100.000 – Rp1.500 = cuma 1,5% hilang buat admin
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi KWh yang Diperoleh
Beberapa hal yang bisa bikin jumlah kWh berbeda:
Golongan daya listrik (450VA, 900VA, 1300VA, dll)
PPJ (Pajak Penerangan Jalan) dari tiap daerah
Tarif dasar listrik yang berlaku saat itu
Kebijakan dari PLN (bisa berubah sewaktu-waktu)
Tips Supaya Lebih Hemat Beli Token Listrik
1. Beli Sekaligus dengan Nominal Lebih Besar
Seperti dijelaskan tadi, semakin besar nominal, semakin hemat per kWh-nya.
2. Gunakan Aplikasi Pembelian Token yang Minim Biaya Admin
Pilih aplikasi yang biaya admin-nya lebih rendah, atau bahkan gratis.
3. Cek Promo Token Listrik
Beberapa e-wallet atau marketplace sering kasih diskon pembelian token, lumayan banget!
4. Pantau Penggunaan Listrik Harian
Gunakan alat pemantau atau periksa langsung di meteran biar kamu tahu pemakaian rata-rata harian.
Dimana Sih Bisa Beli Token Listrik dengan Harga Termurah?
Berikut beberapa platform yang bisa kamu coba:
Tokopedia
Shopee
DANA
OVO
LinkAja
Indomaret/Alfamart
Bandingkan harga dan biaya adminnya ya!
Jadi, Lebih Untung Beli Token yang Mana?
Jawabannya: tergantung kebutuhan. Tapi dari sisi efisiensi, token Rp100.000 jelas paling menguntungkan. Kenapa?
Biaya admin tetap
KWh lebih banyak
Lebih hemat jangka panjang
Analogi Sederhana: Beli Token Itu Kayak Beli Beras
Kalau kamu beli beras 1 liter (Rp20.000), mungkin harganya Rp20.000. Tapi kalau beli 5 liter (Rp100.000), bisa jadi per liternya cuma Rp18.000. Token juga gitu, beli banyak lebih untung.
Simpulan: Jangan Remehkan Biaya Admin!
Meskipun kelihatannya kecil, biaya admin bisa makan porsi besar kalau kamu sering beli token kecil. Jadi, kalau memungkinkan, belilah token dalam nominal besar sekalian. Hemat waktu, hemat uang, hemat tenaga.
FAQ: Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
1. Apakah token Rp20.000 rugi?
Nggak rugi, tapi kurang efisien. Cocok untuk kondisi darurat aja.
2. Kalau token nggak dipakai, bisa kedaluwarsa nggak?
Nggak. Token listrik tidak memiliki masa berlaku. Bisa disimpan dulu dan dipakai nanti.
3. Token Rp100.000 bisa dipakai untuk meteran 450VA?
Bisa banget. Tapi jumlah kWh-nya akan lebih besar dibanding 900VA atau 1300VA.
4. Apakah ada cara untuk dapat token lebih banyak dengan harga sama?
Ada, yaitu lewat promo aplikasi atau cashback di marketplace tertentu.
5. Apakah beli token di aplikasi lebih murah daripada di minimarket?
Sering kali iya. Biaya admin di aplikasi bisa lebih rendah dan bahkan gratis di momen tertentu.
Jadi, kamu tim beli token Rp20.000, Rp50.000, atau langsung gas Rp100.000?







