Bunga Floating KPR Terbaik: Panduan Lengkap & Tips

Ketika kita berencana membeli rumah dengan skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR), salah satu hal yang paling penting untuk dipahami adalah jenis suku bunga yang digunakan pihak bank. Nah, salah satu jenis bunga yang paling sering ditawarkan adalah bunga floating KPR.

Apa sebenarnya bunga floating itu? Mengapa bunganya bisa berubah dan bagaimana dampaknya terhadap cicilan bulanan? Artikel super lengkap ini akan membahas semuanya secara detail, dengan bahasa yang santai, mudah dipahami, dan tentu saja SEO-friendly agar bisa bersaing di mesin pencari.

Yuk, langsung kita kupas tuntas!

Apa Itu Bunga Floating KPR?

Bunga floating KPR adalah bunga mengambang yang besarannya dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi pasar, terutama pergerakan BI Rate atau suku bunga acuan Bank Indonesia.

Bacaan Lainnya
  • Jika suku bunga acuan naik → bunga floating ikut naik

  • Jika suku bunga acuan turun → bunga floating ikut turun

Dengan kata lain, cicilan KPR kita bisa berubah dari waktu ke waktu. Kadang lebih tinggi, kadang lebih rendah.

Cara Kerja Bunga Floating KPR

Agar lebih mudah membayangkan cara kerjanya, mari kita jelaskan dengan analogi sederhana.

Bayangkan bunga floating seperti kapal yang mengikuti gelombang laut. Saat gelombang naik, kapal naik. Saat gelombang turun, kapal ikut turun. Begitu juga bunga floating yang mengikuti kondisi pasar.

1. Mengikuti Perubahan Suku Bunga Pasar

Bank akan menyesuaikan bunga KPR berdasarkan:

  • BI Rate

  • Kondisi ekonomi global

  • Inflasi

  • Kebijakan moneter

2. Cicilan Bisa Berubah Tiap Periode

Berhubung bunganya tidak tetap, bank akan menghitung ulang cicilan setiap periode tertentu (misalnya 3 bulan atau 6 bulan sekali).

3. Biasanya Berlaku Setelah Masa Fix Rate

Sebagian besar bank akan memberikan skema:

  • Tahun 1–3: bunga fixed

  • Tahun berikutnya: bunga floating

Kelebihan Bunga Floating KPR

Meski terkesan berisiko karena bisa naik, bunga floating punya sejumlah keunggulan menarik, loh!

1. Berpotensi Mendapat Bunga Lebih Rendah

Saat kondisi ekonomi stabil atau suku bunga acuan turun, cicilan kita bisa jadi lebih ringan.

2. Cocok untuk KPR Jangka Panjang

Jika mengambil KPR 15–20 tahun, kemungkinan besar kita akan merasakan fase suku bunga turun.

3. Fleksibel untuk Pelunasan Dipercepat

Banyak bank memberikan keringanan pelunasan saat fase floating.

Kekurangan Bunga Floating KPR

Tentu saja, ada risiko yang perlu dipertimbangkan.

1. Cicilan Bisa Membengkak

Jika ekonomi sedang tidak stabil, bunga floating bisa naik cukup signifikan.

2. Sulit Menentukan Anggaran Jangka Panjang

Kita tidak bisa memastikan cicilan kita 3–5 tahun ke depan.

3. Potensi Stres Keuangan

Kenaikan tiba-tiba bisa membuat rencana keuangan jebol jika tidak siap.



Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *