Kepemimpinan Spiritual: Tingkat Kesadaran Menjadi Penentu

Posted on

Berikut ini diuraikan tiga tingkat kesadaran selanjutnya, yaitu Existential, Transpersonal Bands, dan Level of Mind.

Tingkat Existential

Pada level ini Wilber menyodorkan istilah yang berasal dari filsuf-filsuf eksistensial, yaitu penyatuan diri dengan orang lain (uniting the self and others). Para filsuf eksistensialis mengakui bahwa makhluk di bumi memiliki ikatan otentik antara total being individu dengan lingkungannya.

Mereka meyakini bahwa ”Aku” individu hanya eksis ketika berada dalam relasi dengan orang-orang lain, dan bahwa kehilangan kesadaran berarti memutuskan hubungan antara diri dengan orang-orang lain.

Di sisi lain, meningkatkan kesadaran berarti melibatkan diri dalam hubungan mendalam dengan orang-orang lain, yang hasilnya akan memperkaya kesadaran internal (inner awareness) seseorang.

Menurut Wilber, peningkatan kesadaran ke tingkat eksistensial dapat dicapai secara sederhana dengan duduk di tempat yang sepi (tenang), menghentikan semua konsep mental tentang diri sendiri, dan merasakan eksistensi dasar seseorang.

Untuk menguatkan identitas seseorang agar lebih permanen pada level ini, biasanya diperlukan bentuk-bentuk terapi eksistensial semacam meditasi, hatha yoga, terapi Gestalt, psikologi humanistik, dsb.

Dalam bisnis, CEO yang memahami kehalusan pada tingkat eksistensial akan mengikuti falsafah yang oleh Weick disebut enactment, yaitu keinsyafan bahwa individu menciptakan lingkungan organisasinya sendiri, dan lingkungan yang diciptakan ini dapat menghambat tindakan dan alternatif tindakan mereka.

CEO yang mencapai kesadaran tingkat ini akan mengikuti apa yang disebut sebagai pilihan strategis (strategic choice). Mereka menganut gagasan bahwa bisnis menciptakan realitasnya sendiri, sehingga menerapkan suatu bentuk kebebasan eksistensial untuk organisasi secara keseluruhan.

Pada level ini CEO menerapkan kepemimpinan strategis (strategic leadership), yang visioner dan sekaligus proaktif. Selain itu mereka juga mendorong perilaku kewargaan organisasi sebagai suatu standar praktik.

Dengan perspektif ini mereka menyadari bahwa bisnis hanya akan berkembang dalam hubungannya dengan orang lain dan lingkungan secara keseluruhan. Dalam menghadapi kematiannya sendiri, pada level ini CEO lebih suka perencanaan suksesi yang dapat berjalan terus secara mantap, sebagai suatu komponen penting dari perencanaan strategis organisasi secara keseluruhan.

Pada tingkat kesadaran yang pertama hingga keempat (Shadow s.d. Existential) individu terutama bersandar pada pemrosesan kognitif atas pengetahuan simbolis, yang memisahkan antara orang yang mengetahui dan pengetahuan itu sendiri, antara subjek dengan objek.

Pada tingkat berikutnya, Transpersonal Bands, individu berhadapan dengan intimate knowledge. Ini adalah tingkat kesadaran yang sering kurang dimengerti, tetapi merupakan pengalaman yang terjadi pada banyak orang.

Tingkat Transpersonal Bands

Pada level ini individu mulai menyadari dan mengakui bentuk-bentuk pengetahuan yang tidak bersifat dualistis (antara subjek dan objek pengetahuan tidak terpisah). Individu mulai merealisasi dan mengalami apa yang disebut sebagai reliansi/keyakinan eksklusif dalam pengalaman.

Wilber bersandar pada konsep Jung dalam menggambarkan elemen-elemen yang ada dalam tingkat transpersonal ini. Jung menggunakan istilah synchronicity, yaitu suatu kejadian yang penuh makna antara gejala psikis dan fisik. Bila dua kejadian, yang satu bersifat psikis dan yang lain bersifat fisik, terjadi dalam waktu yang sama, ini berarti terjadi synchronicity.

Aspek psikis dalam fenomena ini dapat termanifestasi dalam suatu bentuk mimpi, ide, atau intuisi, yang kemudian menjadi kenyataan secara fisik. Sebagai contoh, ketika seseorang memikirkan orang lain, menit berikutnya ia menerima telepon dari orang yang baru saja dipikirkan. Contoh lain, seseorang bermimpi tentang pesawat jatuh dan ketika ia membaca koran pada pagi harinya ternyata mimpinya itu benar-benar terjadi semalam.

Gejala synchronicity muncul bila secara fisik individu dalam keadaan kurang sadar, misalnya bermimpi atau merenung. Pengetahuan sinkronistik ini meningkatkan kemampuan dalam pengambilan keputusan, yaitu dengan meningkatkan kepekaan intuitif, yang diberdayakan setelah semua data empiris dijajaki secara objektif.

Pada tingkat kesadaran ini individu mengalami perasaan transendensi, mengalami sebagai saksi supra-individual. Artinya individu mampu mengamati aliran dari sesuatu, tanpa menyela, mengomentari, atau memanipulasi alur peristiwa.

Kapasitas untuk melakukan sintesis, membuat hubungan antara konteks-konteks yang berbeda, dan mengintegrasikan konsep, yang telah mulai dimiliki pada saat mencapai tingkat eksistensial, pada tingkat transpersonal ini kapasitas tersebut difasilitasi.

Dengan cara memandang dunia seperti ini, semua gejala tampak sebagai gerakan atau aktivitas yang berkesinambungan; semua elemen tampak “terkoneksi (connected)”, saling berhubungan, dan merefleksikan suatu kesatuan dengan esensi yang sama.

Churchman menyatakan bahwa sifat “connectedness” merupakan hal yang sangat penting untuk perencanaan dan pelaksanaan dalam organisasi. CEO yang memiliki kapasitas mengakses kondisi saksi supra-individual, memiliki keuntungan dalam merumuskan dan mengimplementasi strategi dan kebijakan dalam kondisi lingkungan yang bergejolak dengan kecepatan tinggi.

Dalam lingkungan seperti itu, kemampuan untuk mengambil perspektif saksi transpersonal dapat membantu mencegah CEO “tersapu” oleh kejadian-kejadian yang bergerak cepat.

Dengan kapasitas seperti itu, CEO dapat secara positif terlepas dari situasi yang ada dan dapat merumuskan suatu kerangka berpikir strategis yang objektif bagi organisasi secara keseluruhan. Oleh sebab itu, tingkat kesadaran transpersonal dapat memfasilitasi “kepemimpinan strategis” pada sebagian CEO.

Level of Mind

Berikut adalah tingkat kesadaran paling tinggi dalam Spectrum of Consciousness dari Wilber. Dalam menggambarkan Level of Mind, Wilber menyatakan bahwa “Diri” orang yang mengalami kesadaran sebenarnya bukanlah real self (“Diri” sesungguhnya) dari orang tersebut.

Bagaimanapun cara seseorang melihat, berpikir, dan merasakan dirinya, “Diri” merupakan sesuatu yang kompleks. Ide, konsep, pikiran, emosi, dan objek mental semuanya secara konstan menyedot energi kita, yang menyebabkan adanya suatu tabir antara diri kita dengan realitas.

Pada tingkat ini, individu menyingkap tabir tersebut, sehingga memungkinkan dia mengalami realitas secara langsung. Ini disebut pengetahuan yang tidak dualistis (nondual knowing). Krishnamurti menggambarkan kesadaran seperti ini sebagai kesadaran intensif tanpa pilihan, tidak terkontaminasi oleh pikiran-pikiran, simbol-simbol, atau dualitas; suatu kesadaran tentang apa (what is).

Idealnya, para CEO menyadari dan memahami respon (tindakan), niat, dan sikap mereka saat dihadapkan pada pemecahan masalah; bahwa ia dapat memengaruhi secara strategis, administratif, dan proses-proses operasional di perusahaan.

Pada saat dihadapkan pada pemecahan masalah organisasional, CEO yang sebelumnya merasakan dirinya sebagai subjek, kini merasa sebagai objek. Mereka hanya sebentar merasa diri sebagai pengamat, dan selebihnya yang diamati. Perspektif seperti ini memberikan pencerahan dalam diri CEO dan memfasilitasi perumusan strategi di dalam perusahaan.

CEO yang telah mengalami transendensi ke tingkat ini benar-benar memahami bahwa apa yang ia lakukan untuk dunia dan apa yang dilakukan oleh dunia terhadap dirinya, pada dasarnya sama. Ini merupakan pengalaman nonegoistik yang menghasilkan moralitas yang tinggi dalam pengambilan keputusan.

Tingkatan Level of Mind ini merupakan tingkatan kesadaran tertinggi. Kemampuan pemecahan masalah pada CEO yang mencapai tingkat kesadaran ini juga paling efektif. Ini karena pemecahan masalah tidak dipengaruhi oleh dualitas dan bias-bias pemahaman; CEO menyadari keterhubungan secara internal dengan situasi-situasi yang ada dan juga alam semesta.

Kesimpulan

Evolusi kesadaran merupakan proses jangka panjang dalam diri seseorang. Semakin tinggi tingkat kesadaran, seseorang mengalami identitas dan pandangan terhadap dunia yang semakin luas-utuh.

Mungkin tidak semua CEO dapat mencapai perkembangan sampai tingkat tertinggi, tetapi cukup menggembirakan bila mereka dapat mengembangkan diri hingga tingkat eksistensial.

Dengan munculnya kesadaran bahwa ”Aku” individu hanya eksis ketika berada dalam relasi dengan orang-orang lain, dan bahwa bisnis hanya akan berkembang dalam hubungannya dengan orang-orang lain dan lingkungan secara keseluruhan, sudah pasti CEO tidak akan bertindak secara egois, sehingga menghasilkan dukungan dari orang-orang lain dalam menjalankan keputusan-keputusan bisnis.

Untuk dapat lebih jauh mencapai tingkat transpersonal dan mind, tampaknya diperlukan kontemplasi.